grebeg sura

Dilihat : 9484 Kali, Updated: Kamis, 22 Oktober 2015
grebeg sura

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Ngayogyokarto-Majalahburungpas.com berita budaya,Upacara adat merupakan  prosesi kegiatan yang di lakukan oleh kelompok masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. 

Upacara yang banyak di lakukan tersebut sudah berlangsung turun temurun,dan dalam perkembangannya kemudian menjadi salah satu potensi wisata yang di minati wisatawan.Prosesi ini juga dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah diperolehnya.

 

Upacara itu biasanya berhubungan erat dengan tanah atau pertanian. Berbagai nama upacara yang dapat diketahui untuk menyebut upacara tradisonal itu, antara lain: merdi desa, merti desa, bersih desa, sidekah bumi, ningkah bumi, sampar banyu, tingkep pari, wiwit, kemplongan, haum, glok-glokan (Pusaka Jawi, 1927), maupun sedekah laut dan merti bumi. Selain itu, ada lagi upacara serupa yang diberi nama sesuai dengan bulan pelaksanaannya, misalnya Rejeban, Madilakiran bahkan sampai upacara rasulan.

Related Posts

Komentar